Pemahaman tentang Kematian

Selama ini tidak sedikit orang yang menganggap bahwa kematian adalah sebuah kemalangan, nasib buruk dan puncak sebuah kesusahan atau pergumulan. Oleh karenanya bagi sebagian orang kematian di anggap sebagai “momok” yang menakutkan.


Aries, sebagaimana di kutip oleh David Field dalam tulisannya mengungkapkan bahwa kematian telah menjadi sesuatu yang begitu menakutkan, sehingga banyak orang tidak berani walaupun hanya sekedar mempercakapkannya. Oleh karena itu sekalipun kematian adalah hal yang biasa kita dengar dan lihat dalam keseharian kita, namun bukan berarti hal itu menjadi sesuatu yang mudah untuk sepenuhnya di terima. Sebagai sesuatu yang menakutkan maka banyak orang tidak siap dengan kematiannya sendiri tetapi juga dengan kematian orang-orang yang dekat dengan dirinya.


Berjuang dan berusaha sedemikian rupa untuk mendapatkan dan mempertahankan kehidupan, sekalipun mereka tahu bahwa kehidupan yang di jalaninya itu bukanlah sesuatu yang mudah: “lebih baik hidup dengan sedikit susah dari pada mati cepat-cepat” , begitu ungkapannya.

 

Dan sakit yang di akhiri dengan kematian bagi penderitanya tetap dianggap sebagai bentuk “kegagalan” dan bagi keluarganya di anggap sebagai “kehilangan”. Itulah sebabnya banyak keluarga pasien yang sakit berusaha sedemikian rupa untuk mepertahankan kehidupan, meminta kepada dokter dan tim medis yang menangani untuk melakukan apa saja demi untuk keluarganya dapat tetap hidup. Sehingga tidak jarang kita menjumpai ada pasien yang mengalami sakit yang cukup lama, di rawat di ruang ICU dan sangat bergantung pada alat-alat medis namun sejatinya hidupnya sudah tidak dapat di pertahankan. Mereka tetap “hidup” karena alat yang di pasang di sana-sini di sekujur badannya. Jika perlatan medis itu di hentikan maka sangat dapat di pastikan si pasienpun akan meninggal.


Dalam kasus-kasus yang demikian mereka atau kita yang sehat kerapkali menjadi pribadi-pribadi yang egois. Kita meminta kepada yang sakit untuk terus bertahan dalam kesakitannya demi untuk kita tidak merasa kehilangan, sementara mereka yang mengalami sakit merasakan betapa berat dan menderitanya menjalani kehidupan dalam keterbatasannya. Dan kalau pada akhirnya si penderita itu meninggal maka mereka menganggap bahwa usaha mereka gagal dan kematian di lihat sebagai sebuah kehilangan. Jarang sekali atau bahkan mungkin hampir tidak ada yang melihat kematian sebagai bagian dari proses penyembuhan.

 

Kehidupan – Kematian dalam Rangkaian

Sesungguhnya kematian adalah bagian yang terangkai dengan kehidupan. Saat Tuhan mengaruniai kehidupan maka hendaklah kita sadar bahwa kehidupan itu bukan tanpa batas. “Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang di tanam” , demikian kata Pengkotbah (Pengkotbah 3:2).


Dengan demikian tidak akan ada kematian jika tidak ada kehidupan, dan jika kita dapat menerima kehidupan dengan kegembiraan maka tidak bisa tidak kita juga di minta untuk dapat menerima kematian dengan keikhlasan. Kita menyambut kehidupan dengan sukacita maka kita juga menghantar kematian dengan kelegaan.

 

Karena pemahaman yang demikian maka focus kita yang utama adalah soal bagaimana kita hidup dan menjalani kehidupan di dunia ini. Itulah tanggung jawab kita atas kehidupan yang Tuhan anugerahkan: mengisinya dengan melakukan semua yang baik, semua yang benar dan semua yang berguna. Ini akan jauh lebih bermakna dari sekedar menyesali kematian yang menjemput kita atau orang-orang dekat kita.


Tubuh ragawi kita itu bernilai semasa masih di hidupi oleh jiwa dan roh, namun tidak lagi ketika kematian menjemput. Saat itu tubuh ragawi kita tidak lebih hanyalah sebuah benda, bahkan mungkin tidak lebih bernilai dari benda. Oleh karenanya tubuh ragawi dari orang yang sudah meninggal di perlakukan dengan di kubur atau di bakar.


Itulah sebabnya Paulus menuliskan: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu bagiku bekerja memberi buah”. (Filipi 1:21-22a). Jadi marilah kita menjadikan hidup kita menjadi hidup yang berarti sehingga kehadiran kita menjadi kehadiran yang bermakna.

 

Hal lain sehubungan dengan kematian adalah: kenyataan bahwa tidak selamanya kematian itu sepenuhnya buruk, bisa jadi kematian malah menjadi penyelesai yang indah atas pergumulan panjang seseorang menjalani hidup dalam kesakitan. Di situlah kematian menjadi kesembuhan yang sempurna bagi yang menjalaninya, karena dengan kematian maka si penderita di bebaskan secara penuh semua yang selama ini membuat dirinya sakit.


Bahkan lebih dari itu, si penderita juga di bebaskan dari pergumulan-pergumulan manusiawinya. “Sebab selamamasih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana di telan oleh hidup” (2 Korintus 5:4) Di situ Paulus menggambarkan kehidupan sebagaimana sebuah pengembaraan dan tubuh ragawi kita bagaikan kemah yang menjadi tempat tinggal sementara dengan segala keterbatasannya. Dan selama kita tinggal di kemah itu bisa jadi kita akan menemui banyak hal yang merepotkan dan menyulitkan – namun tidak lagi jika Tuhan memanggil kita dalam kasih karunianya. Hanya orang yang masih hidup yang bergumul dengan kehidupan yang di jalaninya, tetapi orang yang mati di bebaskan dari semuanya.

 

Dan akhirnya kalau toh kematian menjemput kita dan orang-orang yang kita kasihi maka kehidupan baru akan kita nikmati. “karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini di bongkar. Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak di buat oleh tangan manusia” (2 Korintus 5:1). Itulah pengharapan iman kita yang membuat kita mampu memandang kematian sebagaimana Paulus memandangnya.


Memandang peristiwa kematian secara berbeda dan memaknainya bukan sebagai kesusahan dan malapetaka.

Penulis: Imanuel Kristo