Apakah dua peristiwa yang paling besar dampaknya dalam hidup seseorang? Jawabnya adalah kelahiran dan kematian. Karena kelahiran, maka kita ada di dunia, belajar, dan bekerja, melakukan ini dan itu, menjadi begini dan begitu. Kalau dulu kita tidak dilahirkan, saat ini kita tidak ada dan tidak sedang membaca buku ini. Sejajar dengan itu, karena kematianlah maka kita tidak akan ada lagi di dunia, tidak bisa belajar dan bekerja lagi, tidak bisa melakukan ini dan itu, tidak bisa lagi menjadi begini dan begitu.

Kelahiran dan kematian begitu drastis dampaknya bagi kita . Namun, antara keduanya ada perbedaan yang begitu besar . ada dibelakang kita. Kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk memberi arti pada kelahiran kita. Padahal, kematian masih ada di depan kita. Kita masih dapat berbuat sesuatu untuk memberi arti pada kematian kita. Maksudnya, dalam keadaan bagaimana kita meninggal dan dengan sikap serta perasaan- perasaan apa kita meninggal ?

Pernahkah Anda membayangkan perasaan – perasaan yang akan ada dalam hati dan pikiran beberapa minggu, beberapa hari dan beberapa jam sebelum Anda meninggal ? Kita tidak mempunyai pengalaman meninggal dunia, tetapi pada suatu hari kelak kita pasti akan mengalaminya. Itu berarti kita perlu mengantisipasinya. Dengan kata lain, Kita perlu mempersiapkannya.

Mungkin ada orang yang berkata, “ Untuk apa menyiapkan kematian ? Kalau emang waktunya mati, ya mati.” Atau , mungkin orang lain yang berkata, “ Saya tidak perlu menyiapkan kematian, sembarang waktu Tuhan panggil saya siap.” Kedua ucapan itu menunjukkan sikap menganggap enteng atau mengecilkan peristiwa kematian. Padahal kematian berimplikasi dua kejadian yang sangat besar.

Implikasi pertama adalah bahwa kita akan meninggalkan segala sesuatu yang ada pada kita. Kita akan meninggalkan sanak keluarga, kerabat dan sahabat kita, semua pekerjaan kita, semua kedudukan kita, semua harta benda kita, dan sebagainya . Untuk selama – lamanya kita akan pergi dari rumah kita, kota kita, negeri kita, bahkan dunia kita . Perpisahan itu begitu total dan drastis. Jangan kita mengira bahwa perpisahan itu akan terjadi dengan mudah. Coba, pernahkah Anda pikirkan, siapa yang Anda kehendaki berada di dekat Anda pada jam –jam terakhir hidup Anda ? Apa yang hendak Anda katakan kepada mereka ? mungkin Anda menghendaki orang yang kepadanya Anda sangat berterima kasih sehingga Anda ingin mengucapkan terima kasih sebagai kata – kata terakhir . Atau, mungkin Anda menghendaki orang yang Anda benci selama ini, lalu kesempatan terakhir ini hendak Anda gunakan untuk meminta maaf dari dia, atau barangkali juga sebaliknya, yaitu memaafkan dia. Sebelum kita pergi, ada utang – utang yang perlu dilunasi; utang terima kasih, utang minta maaf, utang memaafkan atau lainnya.

Bagaimana pula Anda menilai hidup yang akan Anda akhiri ini ? Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading; artinya orang dikenang dari perbuatannya semasa hidupnya. Apa yang ditinggalkan: belang atau gading ? Apa sumbangsih Anda yang berguna bagi dunia ? Seorang petani yang buta huruf dapat menilai dirinya berguna, “ Saya telah menanam pohon melinjo tempat burung – burung hinggap.” Apa perasaan Anda dalam menilai hidup yang akan Anda akhiri ini ? Apa Anda menilai hidup Anda berguna? Berguna untuk siapa dan salam hal apa ? Apa Anda merasa menyesal, lega, kecewa, sedih, puas, bersyukur, sakit hati, sia-sia , malu, atau apa ? Perhatikan sikap Paulus dari dalam penjara ketika ia mendekati ajalnya, “ … saat kematianku sudah dekat . Aku telah mengakhiri pertandingan yang biak, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” ( 2 Tim. 4:6-7).

Implikasi kedua adalah bahwa kita akan pergi menghadap Tuhan. Bagaimana perasaan Anda ? Takut, girang, sungkan, seram, ragu-ragu, malu, ngeri, senang, atau apa ? Apa yang akan Anda perbuat begitu bertemu dengan Tuhan? Apa kalimat Anda yang pertama kepada Tuhan ? Apa gambaran Anda tentang reaksi Tuhan begitu Ia melihat Anda? Apa Tuhan akan melotot, cemberut, tersenyum, buang muka, memarahi, menyambut, menolak, merangkul, atau apa ? Perhatikan perasaan Paulus, “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang kan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan …”(ay.8).

Kematian mengubah seluruh keberadaan kita. Kita dicabut dari dunia ini lalu ditaruh di dunia yang lain. Oleh karena itu, pelbagai perasaan dan pikiran akan muncul dan saling bercampur dalam diri kita pada hari-hari dan jam-jam terakhir kita. Banyak orang tidak mampu mengolah segala perasaan dan pikiran itu sehingga hari-hari terakhirnya merupakan krisis ketegangan dan kecemasan.

Lebih berguna bila sejak sekarang, selagi masih segar bugar , kita mulai memperhitungkan dan mengolah segala perasaan dan pikiran kita. Dengan kata lain, mulai menyiapkan diri menghadapi kematian.

Namun, jangan salah mengerti . Menyiapkan diri menghadapi kematian bukanlah mengurung diri dan menangis, atau berdoa berjam-jam lamanya, bersedih, dan bermuram durja. Menyiapkan diri menghadapi kematian bukan pula berarti hidup mumpung lalu menghabiskan waktu untuk memuaskan diri dengan kesenangan. Menyiapkan diri menghadapi kematian adalah memberi isi kepada hidup yang sedang kita jalani supaya kelak pada wkatu hidup berakhir, hidup kita mempunyai arti dan meninggalkan arti.

Meninggalkan dunia yang ini dan pergi ke dunia yang lain adalah perpindahan yang menyangkut seantero eksistenis kita. Perpindahan itu perlu disiapkan . Kata Amos, “… bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu …!” (Am. 4:12)

Judul Buku: Selamat Panjang Umur
Sub Judul: 33 Renungan tentang hidup
Judul Renungan: Bersiaplah untuk bertemu dengan Allah
Penerbit: BPK Gunung Mulia